Khalik di tangan-Nya segala kebaikan dan Dialah Maha Kuasa atas segala sesuatu di langit dan bumi. Limpahan nikmat, rahmat, inayah, hidayah dan karunia dari Allah SWT senantiasa menaungi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Film Musikal Dokumenter "Generasi Biru" :
Ditulisdan disutradarai oleh Kamila Andini dan diproduseri oleh Happy Salma dan Ifa Isfansyah, film ini ditayangkan di kanal YouTube IndonesiaKaya. Baca Juga: Hari Batik Nasional, Ketahui 4 Fakta Menarik soal Batik Berikut Ini . Film ini juga menampilkan aktris senior Indonesia Christine Hakim dan bintang muda berbakat Sekar Sari dan Marthino Lio.
Nama: Intan Putri Hidayat 1188030087Kelas : Sosiologi C (semester 6)FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
cash. Review Novel Dua Garis Biru - Karena nggak sempat nonton filmnya, akhirnya saya baca bukunya. Premis ceritanya dua anak remaja yang dimabuk cinta, dan kesalahan besar terjadi. Memporak-porandakan masa depan mereka. Kedua tokoh tersebut bernama Dara dan Bima. Bima murid yang santai, bodoh dan cuek bebek, sementara Dara yang pintar, primadona dan jadi kesayangan guru-guru di sekolahnya. Mereka satu kelas, satu meja dan satu ikatan cinta. Karena orangtua Dara adalah pekerja keras, seorang pebisnis dan pulang ke rumah saat malam hari membuat mereka berdua leluasa. Sekalipun ada asisten rumah tangganya di rumah sih! Dara dari keluarga berada, sementara Bima dari keluarga biasa. Mereka berdua menjalani hari-hari sempurna, saling menerima kekurangan pasangan. Tapi pada suatu waktu di rumah Dara, saat mereka sedang asik bercanda dan tiba-tiba terjadilah sesuatu yang melanggar batas wajar. Saat membuka mata, dan khilaf sejenak keduanya sadar. Hidup mereka sudah berubah, akhirnya keduanya saling menjauh dan butuh waktu untuk sendiri. Perkiraan saya akan putus nih keduanya, hahaha ... ternyata tidak saudara-saudara! Novel Dua Garis Biru Bacaan yang Ringan dan Mengedukasi Novel yang ditulis oleh Lucia Priandarini yang diadaptasi dari naskah sekenario Dua Garis Biru oleh Gina. S Noer sangat enak dinikmati. Halamannya juga tidak banyak, dan dibaca sekali duduk. Konfliknya besar memang, tetapi alur penyelesaiannya membuat saya ingin lekas selesai membaca. Gaya menulisnya enak, lugas dan nggak bertele-tele. Kolaborasi dua orang hebat menghasilkan karya yang luar biasa menggugah. Terlebih ini sebagai novel yang bisa mengedukasi, anak jaman sekarang supaya tidak kebablasan plus jadi ajang perenungan. Perjuangan Bima setelah tahu Dara hamil, bagaimana harus berpura-pura, menyembunyikan dan harus siap menerima kosekwensinya. Dara yang berusaha untuk menelan mimpinya bulat-bulat karena kesalahannya sendiri, dan Bima yang slengekan harus belajar untuk bertanggungjawab. Saya juga suka adegan-adegan kedua orang tua, baik pihak Dara maupun Bima untuk saling menguatkan dan menghadapi bersama. Endingnya tebak sendiri ya? Hahaha ... yang jelas tidak seperti bayangan saya. Tapi ya siapa sih nggak pengen orang yang kita cintai nggak bahagia, sekalipun nggak bersama kita. Ea ... jadi spoiler kan? Meski tema remaja, yang lumayan mendebarkan, novel ini juga diselipi humor-humor lucu versi anak SMA. Jadi apakah Dara akan terus menggapai mimpinya untuk kuliah di Korea? Seperti mimpi sebelumnya, atau mereka berdua harus merawat buah hati mereka? Yang sudah diberi nama 'Adam', oleh ibu Bima. Cus, baca novelnya segera! Sinopsis Novel Dua Garis Biru Bahasa Indonesian Negara Indonesia Penerbit Gramedia Pustaka Utama Penulis Lucia Priandarini & Gina S. Noer Jumlah halaman 212 halaman Dara, gadis pintar kesayangan guru, dan Bima, murid santai yang cenderung masa bodoh, menyadari bahwa mereka bukan pasangan sempurna. Tetapi perbedaan justru membuat keduanya bahagia menciptakan dunia mereka sendiri. Dunia tidak sempurna tempat mereka bisa saling mentertawakan kebodohan dan menerbangkan mimpi. Namun suatu waktu, kenyamanan membuat mereka melanggar batas. Satu kesalahan dengan konsekuensi besar yang baru disadari kemudian. Kesalahan yang selamanya akan mengubah hidup mereka dan orang-orang yang mereka sayangi. Di usia 17, mereka harus memilih memperjuangkan masa depan atau kehidupan lain yang tiba-tiba hadir. Cinta sederhana saja ternyata tak cukup. Kenyataan dan harapan keluarga membuat Bima dan Dara semakin terdesak ke persimpangan, siap menjalani bersama atau melangkah pergi ke dua arah berbeda.* Baca juga Pasta gigi Ibu Hamil
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Film Dua Garis Biru baru saja dirilis pada tanggal 11 Juli kemarin. Film garapan sutradara Gina S. Noer tersebut berhasil mematahkan reaksi negatif segelintir orang yang menganggap film tersebut terlalu gamblang menceritakan dinamika persoalan remaja. Padahal, film tersebut diangkat dari permasalahan yang kerap terjadi di sekeliling kita, yaitu permasalahan pernikahan dini. Namun, permasalahan harus diselesaikan. Bukan lantas dibiarkan atau berlarut larut atas ego sebagai sutradara, diawali dengan standar tinggi yang sebenarnya udah dilakukannya sejak jadi penulis naskah Ayat-ayat Cinta 2008, Hari untuk Amanda 2010, Posesif 2017, Kulari ke Pantai 2018, dan Keluarga Cemara 2018. Ia menggambarkan tanpa basa-basi. Sebuah isyarat tentang pentingnya pendidikan seks sejak usia dini. Bukan pada konteks mengajak anak-anak remaja untuk membolehkan remaja melakukan hubungan yang luas sejak alur cerita ini dibuat dengan landasan yang jelas sejak awal. Konflik pun dibiarkan menganga agar terasa jelas. Hasilnya? Cerita film ini tegas dan jelas. Plus, ada solusi yang diberikan di dalam film ini. Pilihan-pilihan solusi yang membuat situasi menjadi campur aduk. Haru, kepolosan remaja, kehangatan keluarga hingga tawa benar-benar menyatu di dalam filmnya. Dua Garis Biru pun tegas dalam memainkan warna anak-anak mudanya. Di sepanjang film, kamu akan disuguhkan dengan warna-warna gambar yang disesuaikan dengan mood adegannya. Sebuah film drama remaja yang berkelas, ketika banyak produksi film-film lainnya yang hanya menawarkan cerita yang itu-itu saja. Official poster Dua Garis Biru Starvision Plus Karakter Maksimal Tanpa CelaDalam film ini, semua karakter dibuat padat dan berakting maksimal, bahkan figuran pun juga. Contohnya, para tetangga Bima yang secara enggak langsung ngasih tahu soal kehidupan rumah tangga yang penuh polemik, atau keberadaan Asri Welas yang sekilas menggambarkan respons natural melihat kehamilan menonton film ini, mungkin seorang yang kalian tepuk tangani adalah Dara yaitu Zara JKT48. Dia berakting maksimal tanpa cela. Akting Zara yang memukau sudah terlihat dari film Keluarga Cemara 2018.Karakternya sangat cocok untuk memainkan film ini ditambah jika ia beradu acting dengan Angga Yunanda sebagai Bima. Hebatnya Angga, ekspresinya bisa menyampaikan dialog. Ketika akting diam, membisu, dan bengong pun, Angga bisa sampaikan maksud, seperti aktingnya di Sajen 2018, Tabu Mengusik Gerbang Iblis 2019, dan Sunyi 2019.Menghadirkan pemain senior seperti Cut Mini dan Arswendy Bening Swara sebagai orangtua Bima, serta Lulu Tobing dan Dwi Sasono sebagai orangtua Zara. Mereka menjadi gambaran orangtua yang berbeda strata dalam menghadapi masalah. Visual dan Timing yang Sangat PasDetail visual yang dihadirkan film Dua Garis Biru secara jelas menata nuansa dan mood adegan. Meski problem serius, film ini enggak menggambarkan kesuraman. Malah, saking berwarnanya, masalah serius di film ini seakan bisa memberikan harapan bagi orang-orang yang pernah gambar perbedaan keluarga Dara di perkotaan yang kaya raya, berbeda dengan shoot keluarga Bima di perkampungan yang berkecukupan. Stratanya punya mood gambar dilihat dari warna kulit. Bukan bermaksud rasis, warna kulit di film Dua Garis Biru membedakan strata lewat cara berpikir dan bertindak menghadapi suatu masalah. 1 2 Lihat Film Selengkapnya
Data dari UNICEF per Juli 2018 menyebutkan bahwa 650 juta perempuan di seluruh dunia yang hidup saat ini menikah sebelum usia 18 tahun. Jumlah pernikahan dini tertinggi ada di Asia Selatan. Satu dari lima perempuan menikah sebelum usia 15 tahun dan 45% dari perempuan berusia 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun. Angka ini sebenarnya menyedihkan. Tapi, pernahkah kita memberikannya perhatian? Pernahkah kita berpikir bagaimana cara menurunkan atau bahkan menghapuskan angka nikah dini? Isu inilah yang coba diangkat oleh Dua Garis Biru. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Ginatri S. Noer yang telah melahirkan beberapa karya seperti Habibie dan Ainun, Ayat-ayat Cinta, dan Posesif. Ada beberapa bintang muda maupun kawakan yang membintangi Dua Garis Biru seperti Zara JKT 48, Angga Aldi Yunanda, Cut Mini, Lulu Tobing, Dwi Sasono, Ligwina Hananto, hingga Asri Welas sebagai cameo. Soundtrack-nya pun sangat indah mulai dari Biru oleh Banda Neira, Growing Up oleh Rara Sekar, dan Jikalau oleh Naif. Sebuah paduan yang sempurna. Dara dan Bima adalah pelajar kelas 3 SMA yang sebentar lagi akan melaksanakan Ujian Nasional. Sepasang kekasih ini berada di kelas yang sama bahkan duduk sebangku. Dara yang pintar berasal dari keluarga berkecukupan. Bima yang nilainya selalu jelek berasal dari keluarga tidak mampu. Perbedaan latar belakang tidak menjadikan hubungan mereka canggung. Seperti layaknya dua remaja yang dimabuk cinta monyet, Dara dan Bima selalu menghabiskan waktu bersama hingga akhirnya hubungan sex di luar nikah itu terjadi. Mereka sempat berada di fase denial dan saling mendiamkan. Baik Dara maupun Bima sama-sama takut dengan kondisi yang tidak mereka harapkan. Apalagi Dara adalah anak berprestasi yang dipercaya dengan baik oleh kedua orangtuanya. Namun Bima menenangkan dengan mengatakan orangtua pun memiliki batasan dalam merasakan malu maupun marah. Orangtua mereka pasti memihak mereka. Dara dan Bima berpikir terlalu positif karena menganggap orangtua mereka akan maklum. Namun kondisi selanjutnya tidak mereka duga. Inilah titik balik dari hubungan maupun masa depan mereka. Dara dikeluarkan dari sekolah karena dianggap membuat malu. Orangtua Dara merasa sekolah tidak adil karena Bima tetap dibiarkan menuntut ilmu. Orangtua Bima membela anaknya dengan mengatakan bila Bima tidak berpendidikan, bagaimana ia akan jadi ayah di masa depan? Ini adalah sesuatu yang jamak kita temukan pada kasus hamil di usia dini maupun pernikahan dini. Perempuan seperti disuruh menanggung bebannya sendiri. Padahal perempuan juga sama berhaknya untuk tetap berpendidikan meski dalam kondisi hamil. Dua Garis Biru tak hanya berhasil menyajikan kenyataan pahit mengenai isu hamil di luar nikah dan pernikahan usia dini. Film ini juga mengangkat isu soal kesetaraan gender, hubungan antara orangtua dan anak, serta betapa tak sederhananya cinta itu dijalani. Bima mungkin berjanji untuk tidak meninggalkan Dara. Tapi dengan mudahnya janji itu ia ingkari. Ia justru menunjukkan bahwa ia bukan orang yang tepat untuk menjadi suami apalagi seorang ayah di usia begitu muda. Ia menguatkan fakta bahwa pernikahan dan kehamilan memang bukan untuk anak seusianya. Sebaliknya Dara adalah gambaran kebanyakan perempuan dalam kasus hamil di luar nikah maupun pernikahan usia dini. Jangan bicara jauh-jauh soal stigma sosial. Tapi mari kita bahas kondisi Dara secara personal. Kehamilan di usia Dara berisiko tinggi dan rentan keguguran. Ia terus ketakutan apakah impiannya untuk kuliah di Korea akan tercapai. Ingin sekolah, tapi hanya bisa di rumah. Perubahan tubuhnya yang drastis membuatnya syok. ASI yang merembes tiba-tiba padahal waktu melahirkan masih lama hingga perut yang sering kram tentu menganggunya. Walau Dara kuat dan bertekad memertahankan kehamilan, ada masa ia merasa sangat down. Apalagi kata-kata Bima yang menusuk Dara bahwa ia menggunakan air mata sebagai senjata. Angga Yunanda & Zara JKT48 Starvision Harus diakui, yang menjadikan naskah dari film ini brilian tak hanya konflik soal Dara dan Bima semata. Bagaimana orangtua Dara dan Bima belajar untuk menerima kenyataan perlahan-lahan pun sangat menarik dinikmati. Ibunya Dara mengalami fase denial yang jauh lebih lama. Hubungannya dengan Dara hancur berkali-kali meski berhasil diperbaiki. Sebagai seorang ibu, ia merasa terpojok. Di satu sisi ingin menyelamatkan Dara agar tidak merasakan kesulitan tetapi di sisi lain ia justru tidak menghargai keputusan Dara dan Bima. Begitu pula ibunya Bima yang syok. Meski ia tak berharap mendapatkan cucu di usia putranya yang begitu muda, ia bersikeras memertahankan anak itu. Ligwina Hananto yang sebenarnya adalah seorang perencana keuangan ternyata juga mampu berakting dengan sangat baik sebagai seorang dokter kandungan. Caranya menjelaskan kondisi kehamilan Dara adalah salah satu konten edukasi sex yang sangat penting disimak. Tutur katanya tak menggurui dan justru sedikit menggelitik. Ini karena akhir-akhir ini Ligwina menjajal profesi stand up comedy. Ia berhasil menjelaskan konten edukasi sex dalam Dua Garis Biru tanpa membuat penonton merasa jenuh ataupun bingung. Dua Garis Biru tak hanya berhasil mengangkat topik yang dianggap tabu oleh banyak orang tetapi juga membuka mata kita betapa pentingnya isu ini dibicarakan. Ketika orangtua membesarkan anaknya, bukan hanya soal apakah ia sehat atau rajin belajar saja yang penting. Menanyakan apakah ia sudah beribadah atau belum juga tidak cukup. Selain pendidikan di sekolah maupun pendidikan agama di rumah, sudah sepatutnya orangtua juga membicarakan edukasi sex. Anak-anak tak hanya perlu tahu apa bedanya lelaki dan perempuan dari organ reproduksinya saja. Mereka juga harus tahu bahwa tubuh mereka belum siap memiliki bayi dan ancamannya adalah nyawa. Tetapi ini bukan cuma urusan orangtua yang memiliki anak-anak saja. Kita semua bertanggung jawab terhadap generasi muda kita. Kita harus mendorong edukasi sex di ruang publik dan membicarakan hal-hal yang tabu agar isu ini tak tenggelam tanpa jalan keluar. Walaupun ending film ini bukanlah jenis happily ever after yang disukai oleh publik, sebenarnya ini ending terbaik yang bisa diambil. Ending dari Dua Garis Biru akan mengajarkan pada kita semua bahwa masa depan seorang perempuan tak harus berhenti atau hancur hanya karena ia memiliki bayi. Dua Garis Biru memberikan harapan kepada perempuan-perempuan di luar sana yang ada di posisi Dara untuk melanjutkan hidupnya dan menjadi versi terbaik dirinya. Masih ada kesempatan kedua dari kehancuran yang sempat ia jalani.
kelebihan dan kekurangan film dua garis biru